"Orang indonesia kalau punya uang, akan liburan ke bali. Okelah, Bali masih Indonesia. Namun, kalau uangnya lebih banyak lagi, ia akan ke Singapura. Bila uangnya lebih banyak lagi, mereka pergi ke Eropa atau Amerika. Kenalilah negaramu dulu sebelum yang lain"
Itulah kalimat Kal Muller, seorang Antropolog asal Hungaria yang telah memilih Papua menjadi rumahnya, di akhir program Face To Face With Desi Anwar di Metro TV beberapa hari yang lalu. Kata-kata yang cukup membuatku tersentil. Bagaimana tidak, jika bahkan seorang bule yang harus mengucapkan itu pada kita, penghuni Indonesia yang lahir jeger di bumi Nusantara.
THE DAY IT RAINED FOREVER
I shall proceed...and continue...
Monday, February 27, 2012
Saturday, February 25, 2012
Melodia
Kangen bikin puisi, tapi jemari tak mampu lagi. Mungkin aku sedang hampa inspirasi. Mungkin juga karena kemalasan tingkat tinggi. Tapi aku sedang rindu ingin perpuisi. Jadi kunikmati sajak indah ini, tulisan seorang penyair mumpuni...
MELODIA - karya Umbu Landu Paranggi
cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi,
membawa langkah ke mana saja
karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu
takkan jemu-jemu nafas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan
MELODIA - karya Umbu Landu Paranggi
cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi,
membawa langkah ke mana saja
karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu
takkan jemu-jemu nafas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan
Friday, January 27, 2012
Meretas Jogja
Sebuah perjalanan mengisi kembali jadwal off kerjaku yang bertepatan dengan long weekend tahun baru imlek. Kali ini temen jalanku adalah Sopi. Tiket murah Air Asia dari Jakarta membawa kami mblusukan ke kota gudeg Yogyakarta.
Rini, sobat lamaku jaman kuliah dulu telah menyambutku di terminal kedatangan Bandara Adi Sutjipto. Ah, kau masih seperti dulu Rin. Tak ada yang berubah, masih Rini yang super romantis, hehe. Aku juga beruntung memilikimu di kota itu, karena dengan sukarela kau pinjami aku motor untuk keliling Jogja :-)
Motor yang akhirnya penuh dengan ransel dan koper itu kemudian melaju di atas jalanan kota Jogja menuju Hotel Agung Mas di Jl. Cokroaminoto yang telah Sopi booking. Ancer-ancernya adalah....dari Bandara belok kiri, lurus terus, melewati kira-kira 10 lampu merah kemudian belok kiri, nemu rel kereta api lalu lurus terus kira-kira 100 meter setelah itu. Hah, lengkap deh Rin. Kita nggak nyasar kok :-)
Sesampai di hotel ternyata kita belum bisa langsung check in karena masih pagi dan kamar belum kosong. Jadilah kami cuma nitip barang saja untuk kemudian lanjut ke Cangkringan/Kaliadem, melihat sisa-sisa letusan Gunung Merapi.
Berbekal GPS Manual alias tanya-tanya orang sepanjang jalan akhirnya kami sampai juga di Kaliadem. Mengunjungi desa Kinah Rejo tempat tinggal Alm. Mbah Maridjan. Rumah Alm. Mbah Maridjan sudah rata dengan tanah, di atasnya dibangun sebuah gubuk kecil sebagai penanda bertuliskan "Rumah Mbah Maridjan". Tepat di sampingnya, dua motor dan satu mobil APV yang tinggal rangkanya saja, teronggok menjadi saksi kedahsyatan terjangan awan panas waktu itu. Di dekatnya pula terdapat spanduk berisi tulisan kronologi kejadian waktu itu. Masjid di dekat rumah Mbah Maridjan juga sudah didirikan lagi meski hanya menggunakan bangunan papan dan bambu. Istri Mbah Maridjan nampak di area situ. Sebentar bercakap dengan beliau menanyakan keadaannya dan beliau mengijinkan kami untuk berfoto dengannya.
Rencana sebenarnya mau langsung pulang tapi Sopi tergoda oleh offroad tour menggunakan jeep di areal Kali Gendol, Kali Opak dan areal lainnya sisa erupsi Merapi. Setelah tawar menawar dengan si pemilik jeep akhirnya dimulailah petualangan offroad kami. Yup, Sopi as a driver! Sementara si driver aslinya menjadi navigator. Aku cukup menumpang di belakang saja, sambil sesekali jadi fotografer dadakan. Guyuran hujan menambah serunya perjalanan siang itu.

Merapi tertutup kabut, ah sayang...keindahan aslinya tak terekam indah dalam foto-foto.
Setelah puas berkeliling, perut diisi dengan mie rebus, kamipun pulang kembali ke Jogja. Hujan rintik hingga sedang mengantar kami turun dari lereng Merapi.
Motor yang kubawa sampai ke daerah deket-deket Condong Catur kalau nggak salah, ketika tiba-tiba kurasakan helm yang dipakai Sopi terantuk-antuk ke helmku. Oo...ngantuk nih anak. Merasa nggak aman mboncengin orang yang ngantuk dan tidur , aku segera berinisiatif mencari masjid saja agar Sopi bisa istirahat. Tapi entah berapa jauhnya tak jua kutemukan masjid di pinggir jalan. Waduh! Motor kujalankan pelan saja sambil mata ini terus memperhatikan sisi-sisi jalan. Alhamdulillah dari sisi kiri aku bisa membaca tulisan nama masjid 50 meter belok kiri. Maka ndlongsorlah dengan sempurna Ibu Sopi di masjid tersebut. Sementara aku bengong ria menunggu dia bangun. Sholat dhuhur udah, lanjut sholat ashar...dan dia baru bangun abis sholat maghrib. Gubrax deh!
Jam 7 malam-an kamipun keluar dari masjid tersebut. Tujuan selanjutnya adalah makan malam di Bale Raos kompleks Keraton Jogja. Sejenak mencicipi hidangan favorit para Sultan. Aku pilih, aduh lupa nama menunya tapi semacam suwiran daging bebek panggang yang dikasih saos kedondong. Yummy juga. Tak lupa dengan minuman wedang jahe gulo klopo. Ah, serasa dinner dengan keluarga kerajaan.
Lanjut lagi ke alun-alun Kidul. Menjajal mitos berjalan di antara dua beringin. Ah, Sopi gagal. Aku nggak nyoba karena sudah bisa kupastikan aku akan mbelak-mbelok juga, hehe. Di alun-alun Kidul sempet ketemuan dengan anggota milist Petualang24, ngobrol, kemudian cao dan janjian besoknya akan ke Gunung Kidul bersama.
Nah, dari alun-alun Kidul menuju hotel, kami nyasar. Muter-muter nggak karuan, bolak-balik kok jebulnya sini lagi sini lagi. Proses penyasaran tersebut berlangsung sekitar 1 jam! Akhirnya, kami berhasil menuju jalan kebenaran dan sampai ke hotel dengan selamat.
Esoknya, seperti rencana kami sebelumnya, pantai-pantai di Gunung Kidul akan jadi tujuan selanjutnya. Sejatinya aku bukan pecinta pantai, lha wong tiap 2 minggu dalam sebulan hidupku sudah di tengah laut dan melihat laut seperti sudah eneg dan mau muntah rasanya, haha. Tapi, buat Jogja mungkin bisa jadi exception deh. Kami pergi berdua saja, karena teman yang tadinya janjian akan menemani batal ikutan. Berbekal rambu-rambu di jalan dan sekali lagi GPS Manual...Valentino Rossi jadi-jadian ini meluncur di jalanan Jogja-Gunung Kidul. Hajar blehhhhh....
Busyet dah, serasa nggak inget waktu aku terus melajukan motor. Jalanan berkelak-kelok dan naik turun, ampuun! Pegel banget tangan dan pantatku naik motor tanpa istirahat selama 2 jam lebih, begitupun Sopi yang meski cuma membonceng tapi pastilah capeknya kerasa. Akhirnya, dengan selamat sentosa...sampailah kami di pantai pertama...Pantai Baron.
Pantai Baron, ramai orang siang itu. Pengeras suara dari pengelola pantai mengumumkan acara-acara dan fasilitas yang tersedia bagi pengunjung. Sesekali suara Ebiet G Ade bernyanyi, menjadikan langit kelabu yang tak menyisakan biru itu menjadi melow mendayu (hehe). Pantainya cukup indah. Apalagi kalau kita naik ke atas bukit karangnya dan memandang ke bawah. Setelah menyantap es kelapa, fotografer super amatiran ini jeprat-jepret sesukanya. Dan Sopi, ah...come on, tak maukah kau foto-foto di sini? Dia menggeleng, pengen istirahat saja katanya :-(
Tak berapa lami, kami lanjut lagi ke pantai sebelahnya yaitu Pantai Kukup. Wuih, keren euy. Ada view yang mirip kayak Tanah Lot di Bali (emang udah pernah ke Tanah Lot, Len? Hi3x, cuma lihat di gambar maksude!). Airnya kehijauan, ada semacam ganggang hijau yang menyelimuti air di tepi pantainya. Tapi langit semakin abu-abu...
Lalu kami menyusur jalan ke pantai di sebelahnya lagi. Tercantum rambu "Pantai Sepanjang". Pantainya memang panjaaaaaaaaaaaang banget. Masih sepi. Kami cuma lewat saja dengan motor sejalan garis pantainya. Tak sempat berhenti di sana.
Balik ke jalan besar lagi, ada rambu kecil bertuliskan "Pantai Watukodok". Kutawarkan ke Sopi, mau mampir nggak? Dia bilang nggak usah. Oke deh. Lanjoot lagee...!
Lurus jalan, kami menjumpai tulisan "Pantai Drini". Motor kugeber ke situ. Jalanan menanjak. Sampai di dekat pantai, tiba-tiba Sopi berteriak kegirangan "Eh, masjid-masjid!". Hah, ini anak tiba-tiba berubah jadi alim sekarang, lihat masjid langsung hijau matanya. Usut punya usut, ternyata dia pengen tiduran karena capek dan ngantuk. Oalah, kirain! Lalu menggeleparlah dia dengan sempurna, sekali lagi di sebuah masjid.
Akhirnya aku sendirian mengeksplore pantai ini. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding di situ euy. Pantainya cantik, dengan deburan ombak besar khas pantai selatan. Dari atas batu karang, pantai tersebut terlihat semakin cantik. Background langit mendung, menjadikan pantai ini tambah sayu (halah, bahasamu...Len).

Setelah puas menikmati pantai Drini, aku kembali ke masjid dan masih menemukan Sopi molor dengan nikmatnya. Walah! Padahal kostum pantainya yang sudah ia siapkan telah menjejali ranselku, tapi nyaris tak ada photo session di pantai satupun karena dia telah tepar sedari awal. Sorry nek, sepertinya dikau perlu dibiasakan untuk jalan jauh pakai motor, hehe...
Hujan tiba-tiba deras mengguyur ketika kami bermaksud pulang dari pantai Drini. Yup, stop di pantai Drini saja dan tak melanjutkan ke pantai-pantai yang masih tersisa di sebelahnya. Hiks, lumayan kecewa juga sebenarnya karena pantai Krakal, pantai Sundak dan entah apalagi belum sempat terjelajahi. Sudah terbayang 3 jam naik motor untuk kembali ke kota Jogja, terbayang pegel dan capeknya maksudnya. Lalu kami putuskan untuk nginap di Wonosari saja, kota terdekat yang hanya menempuh perjalanan kira-kira 1 jam.
Event Kejurnas Balap Sepeda Tingkat Nasional di Wonosari, menjadikan hampir semua hotel dan penginapan di kota itu penuh. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan kamar juga. Dan Losmen Tilam Sari di sebuah gang di Wonosari menjadi saksi dilakukannya pemijatan oleh sang ahli pijat ke tubuh Sopi. Hehe, Sop...Sop...kamu kok lucu sampe kepikiran panggil tukang pijat segala. Yo wis selamat menikmati, aku terusin motor-motoran keliling Wonosari, dan berharap berharap nggak nyasar...hehe
Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke kota Jogja. Valentino Rossi jadi-jadian ini kembali menggeber motor pinjeman Jeng Rini. Love u, Rin :-)
Bukit Bintang terlewati begitu saja. Ah, Bukit Bintang...seharusnya aku menikmati kamu semalam. Melihat kerlip lampu-lampu Jogja dari atas sana. Hiks, lain kali ya :-)
Kami belok ke arah Piyungan. Sopi pengen liat Keraton Ratu Boko katanya. Oke deh, siap nek. Keraton Ratu Boko mah nggak bakal pernah lelah kucumbui, meski baru sebulan lalu aku pergi ke sana.
Dan Sopi-pun berganti busana, merias diri cantik sekali sesampainya di Ratu Boko. Wkwkw, kostum pantainya yang tak terjamah kemarin selama di pantai, ia pakai sekarang. It's time for...pemotretan model! Hmm, padahal aku belum pernah belajar sekalipun motret model. Tapi biarin ajalah, trial and error, kalau hasilnya ntar error ya wajar, hehe...

Rencana lanjut jalan ke Candi Ijo dan Candi Banyunibo di dekat Ratu Boko gagal sudah karena jeng Sopi pengen langsung pulang ke kota Jogja. Hiks, lain kali lagi ya...(aku akan ke sana!).
Long weekend membuat Jogja jadi penuh luar biasa. Lampu merahnya yang rata-rata lamanya di atas 1 menit lebih dan lampu hijaunya yang cuma 20 detik, agak-agak bikin macet jalan. Dan...ketika sampai di deket Mall Saphir, waduh-waduh...partner jalanku kembali ngantuk. Ditahan dulu, Sop...lima lampu merah lagi kita sampai hotel. Tapi apa daya, tingkat kengantukan Sopi sudah di atas ambang batas. Akhirnya dia memutuskan turun dari motor ketika melihat ada salon Natasha di seberang Mall Saphir. Mau tidur dan facial aja katanya di sana :-)
Jadilah aku meneruskan perjalanan sendiri. Sebelum balik ke hotel, aku mampir dulu ke Mirota Batik di Malioboro untuk membeli sesuatu. Satu set miniatur gamelan, menggoda imanku. Tapi harganya yang selangit membuatku sadar bahwa lebih baik uang tersebut ditabung saja, hahaha.
Sekitar jam 4 sore, Sopi telepon katanya sudah selesai facial dan sudah tidur. Good! Mau balik dulu ke hotel untuk mandi kemudian kita akan jalan-jalan di Tamansari. Tapi sampai maghrib, dia tak juga muncul di hotel. Lha, nyasar ke mana? Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat. Sumpah, aku panik luar biasa! Lha wong jarak Mall Saphir ke hotel nggak begitu jauh kukira. Khawatir terjadi sesuatu padanya.
Hah, akhirnya dia datang juga tepat jam 7 malam. Bercerita tentang kemacetan Jogja dan kemungkinan pengemudi taksi yang memutar-mutar jalannya. Yo wislah, yang penting kamu selamet nduk...
Malam itu aku sudah janjian dengan Rini dan keluarga untuk makan di luar. Tunjukkan aku ciri khas Jogja, Rin. Makan di angkringan juga hayo aja. Itu malah yang ingin banget kunikmati, yup kebersahajaan kotamu. Akhirnya kami makan di warung nasi goreng sapi di pinggiran Kota Baru sambil ngobrol tentang masa lalu. Asli, belum terbayar utuh rinduku padamu.

Senin, 23 Januari 2012. Pagi-pagi aku motor-motoran sendiri keliling kota Jogja. Sori Sop, kamu masih molor di kasur, jadi nggak enak membangunkanmu, hehe. Mencium pagi Jogja (tanpa acara nyasar)...dan aku jatuh cinta... :-)
Flight kami kembali ke Jakarta sekitar jam 1 siang. Masih ada kesempatan untuk jalan-jalan ke Tamansari. Mengunjungi reruntuhan bangunan masa lalu yang pasti megah pada saat jayanya dulu. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding juga! Hmm, kemarin di pantai Drini, sekarang di Tamansari. Lagi musim kali ya?
Petualangan kami di Jogja berakhir di Tamansari. Pesawat Air Asia siang itu menerbangkan kami pulang ke Jakarta. Jogja, aku pamit dulu...
Untuk Rini, thanks banyak sist untuk semua bantuanmu. Aku pasti kembali suatu hari nanti, kau tahu.. bahwa aku telah jatuh cinta pada keindahan pagi di kebersahajaan kota-mu...
"Aku terpejam, kuhirup nafas dalam
di gerbang kotaku, Yogyakarta
Hari ini aku pulang, hari ini aku datang
bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas
..........................
Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta"
(Ebiet G. Ade, Yogyakarta)
Rini, sobat lamaku jaman kuliah dulu telah menyambutku di terminal kedatangan Bandara Adi Sutjipto. Ah, kau masih seperti dulu Rin. Tak ada yang berubah, masih Rini yang super romantis, hehe. Aku juga beruntung memilikimu di kota itu, karena dengan sukarela kau pinjami aku motor untuk keliling Jogja :-)
Motor yang akhirnya penuh dengan ransel dan koper itu kemudian melaju di atas jalanan kota Jogja menuju Hotel Agung Mas di Jl. Cokroaminoto yang telah Sopi booking. Ancer-ancernya adalah....dari Bandara belok kiri, lurus terus, melewati kira-kira 10 lampu merah kemudian belok kiri, nemu rel kereta api lalu lurus terus kira-kira 100 meter setelah itu. Hah, lengkap deh Rin. Kita nggak nyasar kok :-)
Sesampai di hotel ternyata kita belum bisa langsung check in karena masih pagi dan kamar belum kosong. Jadilah kami cuma nitip barang saja untuk kemudian lanjut ke Cangkringan/Kaliadem, melihat sisa-sisa letusan Gunung Merapi.
Berbekal GPS Manual alias tanya-tanya orang sepanjang jalan akhirnya kami sampai juga di Kaliadem. Mengunjungi desa Kinah Rejo tempat tinggal Alm. Mbah Maridjan. Rumah Alm. Mbah Maridjan sudah rata dengan tanah, di atasnya dibangun sebuah gubuk kecil sebagai penanda bertuliskan "Rumah Mbah Maridjan". Tepat di sampingnya, dua motor dan satu mobil APV yang tinggal rangkanya saja, teronggok menjadi saksi kedahsyatan terjangan awan panas waktu itu. Di dekatnya pula terdapat spanduk berisi tulisan kronologi kejadian waktu itu. Masjid di dekat rumah Mbah Maridjan juga sudah didirikan lagi meski hanya menggunakan bangunan papan dan bambu. Istri Mbah Maridjan nampak di area situ. Sebentar bercakap dengan beliau menanyakan keadaannya dan beliau mengijinkan kami untuk berfoto dengannya.
Rencana sebenarnya mau langsung pulang tapi Sopi tergoda oleh offroad tour menggunakan jeep di areal Kali Gendol, Kali Opak dan areal lainnya sisa erupsi Merapi. Setelah tawar menawar dengan si pemilik jeep akhirnya dimulailah petualangan offroad kami. Yup, Sopi as a driver! Sementara si driver aslinya menjadi navigator. Aku cukup menumpang di belakang saja, sambil sesekali jadi fotografer dadakan. Guyuran hujan menambah serunya perjalanan siang itu.
Merapi tertutup kabut, ah sayang...keindahan aslinya tak terekam indah dalam foto-foto.
Setelah puas berkeliling, perut diisi dengan mie rebus, kamipun pulang kembali ke Jogja. Hujan rintik hingga sedang mengantar kami turun dari lereng Merapi.
Motor yang kubawa sampai ke daerah deket-deket Condong Catur kalau nggak salah, ketika tiba-tiba kurasakan helm yang dipakai Sopi terantuk-antuk ke helmku. Oo...ngantuk nih anak. Merasa nggak aman mboncengin orang yang ngantuk dan tidur , aku segera berinisiatif mencari masjid saja agar Sopi bisa istirahat. Tapi entah berapa jauhnya tak jua kutemukan masjid di pinggir jalan. Waduh! Motor kujalankan pelan saja sambil mata ini terus memperhatikan sisi-sisi jalan. Alhamdulillah dari sisi kiri aku bisa membaca tulisan nama masjid 50 meter belok kiri. Maka ndlongsorlah dengan sempurna Ibu Sopi di masjid tersebut. Sementara aku bengong ria menunggu dia bangun. Sholat dhuhur udah, lanjut sholat ashar...dan dia baru bangun abis sholat maghrib. Gubrax deh!
Jam 7 malam-an kamipun keluar dari masjid tersebut. Tujuan selanjutnya adalah makan malam di Bale Raos kompleks Keraton Jogja. Sejenak mencicipi hidangan favorit para Sultan. Aku pilih, aduh lupa nama menunya tapi semacam suwiran daging bebek panggang yang dikasih saos kedondong. Yummy juga. Tak lupa dengan minuman wedang jahe gulo klopo. Ah, serasa dinner dengan keluarga kerajaan.
Lanjut lagi ke alun-alun Kidul. Menjajal mitos berjalan di antara dua beringin. Ah, Sopi gagal. Aku nggak nyoba karena sudah bisa kupastikan aku akan mbelak-mbelok juga, hehe. Di alun-alun Kidul sempet ketemuan dengan anggota milist Petualang24, ngobrol, kemudian cao dan janjian besoknya akan ke Gunung Kidul bersama.
Nah, dari alun-alun Kidul menuju hotel, kami nyasar. Muter-muter nggak karuan, bolak-balik kok jebulnya sini lagi sini lagi. Proses penyasaran tersebut berlangsung sekitar 1 jam! Akhirnya, kami berhasil menuju jalan kebenaran dan sampai ke hotel dengan selamat.
Esoknya, seperti rencana kami sebelumnya, pantai-pantai di Gunung Kidul akan jadi tujuan selanjutnya. Sejatinya aku bukan pecinta pantai, lha wong tiap 2 minggu dalam sebulan hidupku sudah di tengah laut dan melihat laut seperti sudah eneg dan mau muntah rasanya, haha. Tapi, buat Jogja mungkin bisa jadi exception deh. Kami pergi berdua saja, karena teman yang tadinya janjian akan menemani batal ikutan. Berbekal rambu-rambu di jalan dan sekali lagi GPS Manual...Valentino Rossi jadi-jadian ini meluncur di jalanan Jogja-Gunung Kidul. Hajar blehhhhh....
Busyet dah, serasa nggak inget waktu aku terus melajukan motor. Jalanan berkelak-kelok dan naik turun, ampuun! Pegel banget tangan dan pantatku naik motor tanpa istirahat selama 2 jam lebih, begitupun Sopi yang meski cuma membonceng tapi pastilah capeknya kerasa. Akhirnya, dengan selamat sentosa...sampailah kami di pantai pertama...Pantai Baron.
Pantai Baron, ramai orang siang itu. Pengeras suara dari pengelola pantai mengumumkan acara-acara dan fasilitas yang tersedia bagi pengunjung. Sesekali suara Ebiet G Ade bernyanyi, menjadikan langit kelabu yang tak menyisakan biru itu menjadi melow mendayu (hehe). Pantainya cukup indah. Apalagi kalau kita naik ke atas bukit karangnya dan memandang ke bawah. Setelah menyantap es kelapa, fotografer super amatiran ini jeprat-jepret sesukanya. Dan Sopi, ah...come on, tak maukah kau foto-foto di sini? Dia menggeleng, pengen istirahat saja katanya :-(
Tak berapa lami, kami lanjut lagi ke pantai sebelahnya yaitu Pantai Kukup. Wuih, keren euy. Ada view yang mirip kayak Tanah Lot di Bali (emang udah pernah ke Tanah Lot, Len? Hi3x, cuma lihat di gambar maksude!). Airnya kehijauan, ada semacam ganggang hijau yang menyelimuti air di tepi pantainya. Tapi langit semakin abu-abu...
Lalu kami menyusur jalan ke pantai di sebelahnya lagi. Tercantum rambu "Pantai Sepanjang". Pantainya memang panjaaaaaaaaaaaang banget. Masih sepi. Kami cuma lewat saja dengan motor sejalan garis pantainya. Tak sempat berhenti di sana.
Balik ke jalan besar lagi, ada rambu kecil bertuliskan "Pantai Watukodok". Kutawarkan ke Sopi, mau mampir nggak? Dia bilang nggak usah. Oke deh. Lanjoot lagee...!
Lurus jalan, kami menjumpai tulisan "Pantai Drini". Motor kugeber ke situ. Jalanan menanjak. Sampai di dekat pantai, tiba-tiba Sopi berteriak kegirangan "Eh, masjid-masjid!". Hah, ini anak tiba-tiba berubah jadi alim sekarang, lihat masjid langsung hijau matanya. Usut punya usut, ternyata dia pengen tiduran karena capek dan ngantuk. Oalah, kirain! Lalu menggeleparlah dia dengan sempurna, sekali lagi di sebuah masjid.
Akhirnya aku sendirian mengeksplore pantai ini. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding di situ euy. Pantainya cantik, dengan deburan ombak besar khas pantai selatan. Dari atas batu karang, pantai tersebut terlihat semakin cantik. Background langit mendung, menjadikan pantai ini tambah sayu (halah, bahasamu...Len).
Setelah puas menikmati pantai Drini, aku kembali ke masjid dan masih menemukan Sopi molor dengan nikmatnya. Walah! Padahal kostum pantainya yang sudah ia siapkan telah menjejali ranselku, tapi nyaris tak ada photo session di pantai satupun karena dia telah tepar sedari awal. Sorry nek, sepertinya dikau perlu dibiasakan untuk jalan jauh pakai motor, hehe...
Hujan tiba-tiba deras mengguyur ketika kami bermaksud pulang dari pantai Drini. Yup, stop di pantai Drini saja dan tak melanjutkan ke pantai-pantai yang masih tersisa di sebelahnya. Hiks, lumayan kecewa juga sebenarnya karena pantai Krakal, pantai Sundak dan entah apalagi belum sempat terjelajahi. Sudah terbayang 3 jam naik motor untuk kembali ke kota Jogja, terbayang pegel dan capeknya maksudnya. Lalu kami putuskan untuk nginap di Wonosari saja, kota terdekat yang hanya menempuh perjalanan kira-kira 1 jam.
Event Kejurnas Balap Sepeda Tingkat Nasional di Wonosari, menjadikan hampir semua hotel dan penginapan di kota itu penuh. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan kamar juga. Dan Losmen Tilam Sari di sebuah gang di Wonosari menjadi saksi dilakukannya pemijatan oleh sang ahli pijat ke tubuh Sopi. Hehe, Sop...Sop...kamu kok lucu sampe kepikiran panggil tukang pijat segala. Yo wis selamat menikmati, aku terusin motor-motoran keliling Wonosari, dan berharap berharap nggak nyasar...hehe
Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke kota Jogja. Valentino Rossi jadi-jadian ini kembali menggeber motor pinjeman Jeng Rini. Love u, Rin :-)
Bukit Bintang terlewati begitu saja. Ah, Bukit Bintang...seharusnya aku menikmati kamu semalam. Melihat kerlip lampu-lampu Jogja dari atas sana. Hiks, lain kali ya :-)
Kami belok ke arah Piyungan. Sopi pengen liat Keraton Ratu Boko katanya. Oke deh, siap nek. Keraton Ratu Boko mah nggak bakal pernah lelah kucumbui, meski baru sebulan lalu aku pergi ke sana.
Dan Sopi-pun berganti busana, merias diri cantik sekali sesampainya di Ratu Boko. Wkwkw, kostum pantainya yang tak terjamah kemarin selama di pantai, ia pakai sekarang. It's time for...pemotretan model! Hmm, padahal aku belum pernah belajar sekalipun motret model. Tapi biarin ajalah, trial and error, kalau hasilnya ntar error ya wajar, hehe...
Rencana lanjut jalan ke Candi Ijo dan Candi Banyunibo di dekat Ratu Boko gagal sudah karena jeng Sopi pengen langsung pulang ke kota Jogja. Hiks, lain kali lagi ya...(aku akan ke sana!).
Long weekend membuat Jogja jadi penuh luar biasa. Lampu merahnya yang rata-rata lamanya di atas 1 menit lebih dan lampu hijaunya yang cuma 20 detik, agak-agak bikin macet jalan. Dan...ketika sampai di deket Mall Saphir, waduh-waduh...partner jalanku kembali ngantuk. Ditahan dulu, Sop...lima lampu merah lagi kita sampai hotel. Tapi apa daya, tingkat kengantukan Sopi sudah di atas ambang batas. Akhirnya dia memutuskan turun dari motor ketika melihat ada salon Natasha di seberang Mall Saphir. Mau tidur dan facial aja katanya di sana :-)
Jadilah aku meneruskan perjalanan sendiri. Sebelum balik ke hotel, aku mampir dulu ke Mirota Batik di Malioboro untuk membeli sesuatu. Satu set miniatur gamelan, menggoda imanku. Tapi harganya yang selangit membuatku sadar bahwa lebih baik uang tersebut ditabung saja, hahaha.
Sekitar jam 4 sore, Sopi telepon katanya sudah selesai facial dan sudah tidur. Good! Mau balik dulu ke hotel untuk mandi kemudian kita akan jalan-jalan di Tamansari. Tapi sampai maghrib, dia tak juga muncul di hotel. Lha, nyasar ke mana? Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat. Sumpah, aku panik luar biasa! Lha wong jarak Mall Saphir ke hotel nggak begitu jauh kukira. Khawatir terjadi sesuatu padanya.
Hah, akhirnya dia datang juga tepat jam 7 malam. Bercerita tentang kemacetan Jogja dan kemungkinan pengemudi taksi yang memutar-mutar jalannya. Yo wislah, yang penting kamu selamet nduk...
Malam itu aku sudah janjian dengan Rini dan keluarga untuk makan di luar. Tunjukkan aku ciri khas Jogja, Rin. Makan di angkringan juga hayo aja. Itu malah yang ingin banget kunikmati, yup kebersahajaan kotamu. Akhirnya kami makan di warung nasi goreng sapi di pinggiran Kota Baru sambil ngobrol tentang masa lalu. Asli, belum terbayar utuh rinduku padamu.
Senin, 23 Januari 2012. Pagi-pagi aku motor-motoran sendiri keliling kota Jogja. Sori Sop, kamu masih molor di kasur, jadi nggak enak membangunkanmu, hehe. Mencium pagi Jogja (tanpa acara nyasar)...dan aku jatuh cinta... :-)
Flight kami kembali ke Jakarta sekitar jam 1 siang. Masih ada kesempatan untuk jalan-jalan ke Tamansari. Mengunjungi reruntuhan bangunan masa lalu yang pasti megah pada saat jayanya dulu. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding juga! Hmm, kemarin di pantai Drini, sekarang di Tamansari. Lagi musim kali ya?
Petualangan kami di Jogja berakhir di Tamansari. Pesawat Air Asia siang itu menerbangkan kami pulang ke Jakarta. Jogja, aku pamit dulu...
Untuk Rini, thanks banyak sist untuk semua bantuanmu. Aku pasti kembali suatu hari nanti, kau tahu.. bahwa aku telah jatuh cinta pada keindahan pagi di kebersahajaan kota-mu...
"Aku terpejam, kuhirup nafas dalam
di gerbang kotaku, Yogyakarta
Hari ini aku pulang, hari ini aku datang
bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas
..........................
Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta"
(Ebiet G. Ade, Yogyakarta)
Monday, January 02, 2012
Pergantian Tahun di Kawah Galunggung
Cuti diapprove and it means aku bisa tahun baruan di darat. Rencana telah siap, merayakan pergantian tahun di Gunung Galunggung Tasikmalaya Jabar. Bersama gank nggembel baruku, Nia dan Ayu, kita camping ceria di sana. Menjauhi hiruk pikuk perayaan di ibukota untuk berbagi waktu dengan alam.
Berangkat dari Pule Residence, our kost sweet kost sekitar jam 8 malem via ojek depan gang menuju Terminal Kampung Rambutan. Rencana awalnya kita bakal naik bis paling malem yang ke Tasikmalaya sekitar jam 11 malam sehingga diperkirakan bisa sampai di Tasikmalaya pagi-pagi. Tapi dengan pertimbangan "jangan-jangan macet" di Cipularang mengingat nyaris tahun baru akhirnya kami putuskan untuk ikut bis Primajasa ke Tasikmalaya yang jam 9 malam.
Doa dan harapanku adalah...semoga di jalan bener-bener macet sehingga kita sampai di Tasikmalaya pagi, tapi ternyata oh ternyata jalanan lumayan lancar sehingga kita sampai Terminal Indihiang Tasikmalaya tepat jam 2 pagi. Alamak...ini mah kepagian! Abang-abang ojeg yang standby di depan terminal langsung mengerubuti kami. Tadinya mau ikut numpang di warung deket pangkalan ojeg itu untuk menunggu sampai pagi, tapi kok kelihatan agak-agak nggak nyaman dan nggak aman, ditambah lagi para tukang ojeg itu terus menanyai kami dan tak hentinya menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Galunggung saat itu juga. What? Yang bener aja!
Untung ada masjid yang menyelamatkan kami. Thanks God! Sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks terminal, tempat kami beristirahat menunggu pagi. Nggelar sleeping bag...molor-lah daku hingga shubuh. Sepertinya cuma aku yang molor, ha3x!
Percakapan dengan seorang bapak yang jualan di samping masjid yang ternyata beliaunya adalah imam masjid di situ mewarnai penantian kami. "Naik angkot warna hijau teh kalau ke Galunggung. Kalau ragu tanya saja sama pengurusnya, ada di rumah makan". Begitulah pesen bapak tersebut. Walau agak sedikit bingung dengan maksud "pengurus di rumah makan", kami iyakan saja.
Matahari pagi menampakkan diri, tak lama kemudian angkot hijau tampak mangkal di pasar seberang terminal lalu kami pamitan ke bapak tersebut. Saat hendak menyeberang jalan ke arah pasar. Seorang petugas yang berada di gerbang masuk bis terminal menanyai kami dan menjelaskan transportasi menuju Galunggung. "Nyebrang ke pasar, naik angkot warna kopi", katanya. Hah? Warna kopi? Bukannya hijau...? Waduh, gimana nih Pak petugas?
Setelah nyebrang ke arah pasar, demi ketepatan angkot yang akan kami naiki, maka kami kembali bertanya. Kali ini kami bertanya sama seorang mbak-mbak yang sedang menyapu di depan sebuah toko "itu, angkot warna hijau itu yang ke Galunggung. Angkot teh, bukan bis". Haha...Nia untuk ke sekian kalinya kembali salah sebut, mau nyebut angkot malah keliru nyebut bis. Menurut supir angkotnya, dia akan berangkat jam 06.45. Jadi masih ada kesempatan 30 menit untuk sarapan. Ada ketupat sayur mangkal dekat angkot tersebut. Kali ini Nia menanyakan dulu berapa harga se-porsinya sebelum membeli. Yeah, karena pengalaman membuktikan sudah beberapa kali dalam perjalanan kami sebelum ini, makan deket terminal selalu saja dihargai mahal padahal hanya makanan standar saja. Jadilah ketupat sayur ala Tasikmalaya kami santap sebagai sarapan. Bukan ketupat sayur ding karena blas nggak ada sayurnya, maka kami sepakat menamakannya sebagai ketupat kuah :-)
Tepat jam 7 pagi kurang sedikit, kami bersama angkot warna hijau akhirnya berangkat ke Galunggung. Carrier & daypack kami berdiri di antara tumpukan box-box minuman mineral bahkan juga sekarung sayur yang memenuhi hampir separuh isi angkot. Jalan menuju Galunggung bener-bener sudah rusak. Amat disayangkan betapa destinasi wisata yang aku yakin telah menyumbangkan pendapatan asli daerah ini, tidak begitu diperhatikan aksesnya. Tapi meski dengan kondisi jalan yang rusak dan mengakibatkan ketidaknyamanan duduk di dalam angkot, kulihat si Ayu tetep bisa molor tuh. Yeah, selamat bermimpi indah di dalam angkot :-)
Entah berapa kilometer jarak dari Terminal Indihiang ke Galunggung, perasaan perjalanannya lumayan lama. Meski jalanan rusak, tetapi kuperhatikan petunjuk arah menuju Galunggung sangat jelas. Akhirnya sampailah kami di Pos Retribusi Galunggung. Naik ojeg menuju tangga Galunggung sudah masuk dalam itenerary kami plus budgetnya, jadi...marilah kita mengirit tenaga saja, hehe...
Ojeg mengantarkan kami tepat di dekat tangga semen menuju kawah Galunggung. Ha3x, naik gunung kok pakai tangga semen ya? Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebelum naik, kami singgah dulu di sebuah warung sekalian membeli perbekalan camping nanti. Nasi bungkus, telur dadar, air minum dll. Sang Ibu penjaga warung juga menyarankan agar kami naik ke Gunung lewat jalan setapak di samping tower BTS saja yang tepat berada di samping warung tersebut, lebih dekat sampai bibir kawah dan jalannya tak begitu menanjak. Okelah kalau begitu, kita hajar bleh!
Kabut merayap naik. Hmm, seger...
Perjalanan sampai bibir kawah tak begitu jauh pun nanjak, bener kata si Ibu penjaga warung tadi. Melihat dari atas, kok area kawah yang sudah menjadi danau di bawah masih sepi, tak terlihat ada tenda camping di sana. Waduh, jangan-jangan cuma kita bertiga yang nge-camp di sana! Setelah foto narsis sebentar, kitapun turun melalui setapak ke arah kawah.
Sampai di tepian kawah, eh nemu warung. Walah, tahu ada warung gini ngapain kita bawa perbekalan dari Jakarta plus tambahan makanan di warung atas tadi ya? Harga juga cuma beda gopek doang. Sayangnya, warung yang kemudian kita namai menjadi Ibu D2alias "Depan Danau" ini tak gorengan yang masih panas kemebul, hehe...
Suasana sekitar danau masih sepi. Ada tenda yang telah berdiri cuma jaraknya juga lumayan jauh dari lokasi tempat kami nenda. Beruntung tak lama kemudian, datanglah segerombolan orang yang akhirnya menjadi tetangga dan mendirikan tenda tepat di belakang kami. Hehe, spot tempat buang air darurat meski kegusur, wkwkwk. Tambah seru juga punya tetangga yang kelakuannya lucu-lucu bin aneh-aneh ini.
Tenda berdiri, makan siang...lalu molor! Oalah, pindah tidur doang ini ceritanya :-)
Menjelang sore, Galunggung diguyur hujan deras, angin kencang plus guntur yang menggelegar. Tenda kami yang imut serasa berjuang keras melawan penderitaan. Tangan kami terus menopang tiang-tiang tenda dari dalam. Tak lupa pula berdoa pada yang Kuasa. Hah, lega rasanya ketika semuanya kemudian berakhir dan langit kembali cerah ceria menanti malam pergantian tahun.
Satu lagi keuntungan punya tetangga, yaitu kami tak perlu susah-susah bikin api unggun malamnya alias tinggal nebeng saja. Kembali disayangkan, kenapa si Ibu D2 tak menyediakan jagung sehingga bisa kami bakar bersama. Ups, ada yang ngasih susu anget juga, tapi cuma 1 orang yang menghabiskan 3 gelas susu anget tersebut. Nia nggak mau karena takut cepet pup sedangkan aku nggak mau karena takut laktosa intoleranku beraksi. Alhasil, 3 gelas susu hangat tersebut dihabiskan oleh satu orang saja (hayo tunjuk jari...!. Sang penikmat 3 gelas susu ini, juga kelihatan begitu nikmatnya klepas-klepus dengan asapnya. Yang lain serasa ngontrak aja ya, Yu? Hehe...
Kawah Galunggung mulai ramai. Satu demi satu tenda diberdirikan. Menunggu pergantian tahun, kami molor lagi. Alarm disetel jam 11 malam.
Akhirnya, pergantian tahun 2011 ke 2012 kami nikmati di kawah Gunung Galunggung. Tak kalah seru dibanding di kota. Nyatanya pesta kembang api juga kita nikmati di sana. Plus jedag-jedug musik disko dari tenda kawan-kawan yang nge-camp di seberang sana. Langit cerah. Bintang bertaburan, berkerlip indah. Meski tak ada bintang jatuh yang kulihat, boleh kan make-a wish. Dan harapanku di tahun 2012 adalah...hmm...apa ya? Ada deh! Selamat tahun baru 2012 untuk semua!
Pagi yang cerah di awal 2012. Selesai menamatkan sarapan dengan makanan instan, kamipun cabut dari Galunggung. Kini kami menggunakan jalur tangga semen untuk turun gunung. Ternyata pengunjung yang naik tangga lumayan banyak, mulai dari anak kecil sampai oma opa, terus berjuang menaiki tangga. Ayo…kamu bisa!!!
Tujuan kami selanjutnya adalah pemandian Cipanas yang letaknya tak jauh dari kawah Galunggung. Tentu saja kami ingin mandi! Hehe, secara sudah dari kemarin kami absen mandi meski sebenarnya ada sungai yang lumayan besar bahkan musholla di dekat kawah.
Kembali kami memanfaatkan jasa ojeg menuju Cipanas. Hujan rintik menyertai kami selama perjalanan. Jalanan beraspal bagus tetapi dengan track yang kadang membuat jantung mau copot. Sesampainya di Cipanas…waduh, sudah kayak cendol euy. Ramai sekali. Namanya juga tahun baru. Tapi yang penting, akhirnya…kami mandi juga! Air hangat pula!
Kami berniat langsung kembali ke Terminal Indihiang Tasikmalaya dengan angkot warna hijau dari gerbang pos retribusi. Tapi jalanan desa dengan kondisi rusak dan tidak begitu lebar tersebut tiba-tiba berubah serasa Jakarta, alias macet luar biasa. Gila! Tapi perjalanan macet dan lama bersama penumpang lain yang ternyata warga sekitar Galunggung itu membawa cerita tersendiri. Mereka adalah warga desa yang lugu yang dengan antusiasnya bercerita tentang seorang bos di daerah situ yang luar biasa kaya karena usahanya dalam pengelolaan pasir Galunggung. Dua ikat rambutan yang kami beli di Cipanas, ludes juga menjadi teman perjalanan selama menikmati kemacetan.
Sekitar jam 1 siang kami sampai di Terminal Indihiang. Sholat sebentar di masjid dalam terminal yang kemarin kita datangi. Bapak imam masjid masih mengenali kami bertiga dan menanyakan bagaimana suasana tahun baru di Galunggung sana. Lalu Bis Budiman jurusan Jakarta membawa kami pulang ke Kampung Rambutan.
Trip yang singkat tapi mengesankan. Begitu banyak kejadian lucu sepanjang kisah perjalanan. Special thanks untuk para tetangga, yang maaf banget sampai nggak hafal satu persatu namanya. Terima kasih untuk segala kebersamaan. Sampai jumpa suatu hari nanti entah di pelosok gunung mana…
“Berbagi waktu dengan alam. Kau akan tahu dirimu siapa yang sebenarnya...” (Okta feat Eros, OST Gie).
Wednesday, December 28, 2011
Memburu Masa Lalu...
Jadwal off kerja yang kebetulan berbarengan dengan liburan sekolah, kelihatan sangat sempurna. Travelling sekeluarga ke Solo-Jogja, jadi pilihan. Candi Sukuh, Cetho & Ratu Boko (again) di sana akan menjadi tujuan perjalanan kali ini. Bukan tujuan keluarga sebenarnya, tapi tujuanku egoisku (hehe). Beruntung aku memiliki ayah, ibu & adik yang sama-sama tahu bahwa aku adalah penyuka wisata candi.
Road trip pun dimulai. Dari Pekalongan, kami nginep dulu di Ungaran. Menghirup semalam udara segar kaki gunung Ungaran. Esoknya, perjalanan dilanjutkan lagi. Transit sebentar di Pasar Klewer Solo. Sebuah pasar yang entahlah, aku mungkin akan malas menginjakkan kaki di sana lagi gara-gara oknum beberapa pedagang yang memberiku kesan buruk atasnya. Sholat dhuhur di Masjid depan alun-alun. Masjid tua, tapi bangunan aslinya masih cantik.
Destinasi selanjutnya adalah Candi Sukuh. Tapi kemungkinan sampai Karanganyar sudah agak sorean, hujan deras juga mengguyur jalan. Sepertinya nggak bisa langsung ke tujuan. Dengan pertimbangan banyaknya hotel untuk bermalam, maka kami tak langsung menuju arah Ngargoyoso tempat dimana Candi Sukuh & Cetho berada, tapi kami berbelok arah ke Tawangmangu. Ah, lereng Gunung Lawu yang kini ternyata tak sedingin dulu...
Bonus mengunjungi Grojogan Sewu sebentar. Langsung tancap menuju Candi Sukuh dengan perjalanan dengan tanjakan-tanjakan yang lumayan. Sebuah candi yang cantik, bentuknya mirip piramida. Lay outnya sejenak mengingatkanku pada Candi Penataran di Blitar. Candi ini juga terkenal akan keberadaan arca yang agak saru, entahlah apa maksud nenek moyang kita membuatnya...

Dan jalan menanjak yang luar biasa adalah ke arah Candi Cetho. Alamak, ampun dah pokoknya. Thanks banyak buat adikku yang jadi driver dan sukses berjuang menuju ke sana hingga kakaknya ini bisa menyambanginya. Plus kedua orang tuaku yang tak henti berdzikir sepanjang tanjakan yang super duper mengerikan.
Yeah, sebuah candi di negeri di atas awan. Cantik. Bangunan candi di tingkat paling atas berbentuk piramida yang mirip seperti di Candi Sukuh. Dan layaknya saudara dengan Candi Sukuh, Candi Cetho ini juga menyimpan keerotisannya dengan sebuah relief yang saru juga...


Melintas perbatasan propinsi, perjalanan kami lanjutkan ke arah Yogyakarta. Sampai di Prambanan sudah sore. Gagal cita-citaku mengabadikan sunset di Prambanan karena loket masuk sudah tutup ketika sampai di sana.
Esoknya kami balik ke Candi Prambanan lagi. Suasana sudah seperti cendol di sana saking banyaknya pengunjung. Jadi males muterin Prambanan, alias langsung ikut Shuttle Bus dari Prambanan menuju Keraton Ratu Boko.
Keraton Ratu Boko, Candi tercantik sejauh ini menurutku. Setengah tahun lalu padahal baru saja dari sana, tapi sayang waktu itu nggak bawa kamera beneran alias cuma kamera hape hingga tak bisa mengabadikan kecantikannya secara sempurna. Dan kini aku kembali rindu mengunjunginya.
Langit mendung dan hujan rintik. Keraton Ratu Boko tampak makin sayu dalam keheningannya. Ah, sempet kepikir suatu hari nanti (entah kapan) aku bisa foto pre-wed di sini, hahaha! Sumpah, candi ini keren luar biasa! Imajinasi kita bahkan bisa bergerak bebas nan liar membayangkan bangunan-bangunan batu tersebut seperti apa dulunya...






Perjalanan pulang ke Pekalongan via Magelang. Sejenak say hay dengan Candi Mendut yang terlewati untuk menuju Borobudur. Nggak niat masuk ke kompleks Borobudur, suasananya juga udah kayak cendol karena pengunjung yang ramai. Jadilah hanya mampir beli bakso di deket kios souvenir/parkiran untuk mengganjal perut lapar. Sangat kecewa dengan kondisi lingkungan sekitar karena sampah berserakan. Sayang banget :-(
Ah, masih banyak Candi yang berserak yang ingin kusapa dan kunikmati keindahannya. Entah kapan bisa mblusukan, memburu masa lalu...mengais sisa kejayaan Nusantara dulu...!!!
Road trip pun dimulai. Dari Pekalongan, kami nginep dulu di Ungaran. Menghirup semalam udara segar kaki gunung Ungaran. Esoknya, perjalanan dilanjutkan lagi. Transit sebentar di Pasar Klewer Solo. Sebuah pasar yang entahlah, aku mungkin akan malas menginjakkan kaki di sana lagi gara-gara oknum beberapa pedagang yang memberiku kesan buruk atasnya. Sholat dhuhur di Masjid depan alun-alun. Masjid tua, tapi bangunan aslinya masih cantik.
Destinasi selanjutnya adalah Candi Sukuh. Tapi kemungkinan sampai Karanganyar sudah agak sorean, hujan deras juga mengguyur jalan. Sepertinya nggak bisa langsung ke tujuan. Dengan pertimbangan banyaknya hotel untuk bermalam, maka kami tak langsung menuju arah Ngargoyoso tempat dimana Candi Sukuh & Cetho berada, tapi kami berbelok arah ke Tawangmangu. Ah, lereng Gunung Lawu yang kini ternyata tak sedingin dulu...
Bonus mengunjungi Grojogan Sewu sebentar. Langsung tancap menuju Candi Sukuh dengan perjalanan dengan tanjakan-tanjakan yang lumayan. Sebuah candi yang cantik, bentuknya mirip piramida. Lay outnya sejenak mengingatkanku pada Candi Penataran di Blitar. Candi ini juga terkenal akan keberadaan arca yang agak saru, entahlah apa maksud nenek moyang kita membuatnya...

Dan jalan menanjak yang luar biasa adalah ke arah Candi Cetho. Alamak, ampun dah pokoknya. Thanks banyak buat adikku yang jadi driver dan sukses berjuang menuju ke sana hingga kakaknya ini bisa menyambanginya. Plus kedua orang tuaku yang tak henti berdzikir sepanjang tanjakan yang super duper mengerikan.
Yeah, sebuah candi di negeri di atas awan. Cantik. Bangunan candi di tingkat paling atas berbentuk piramida yang mirip seperti di Candi Sukuh. Dan layaknya saudara dengan Candi Sukuh, Candi Cetho ini juga menyimpan keerotisannya dengan sebuah relief yang saru juga...


Melintas perbatasan propinsi, perjalanan kami lanjutkan ke arah Yogyakarta. Sampai di Prambanan sudah sore. Gagal cita-citaku mengabadikan sunset di Prambanan karena loket masuk sudah tutup ketika sampai di sana.
Esoknya kami balik ke Candi Prambanan lagi. Suasana sudah seperti cendol di sana saking banyaknya pengunjung. Jadi males muterin Prambanan, alias langsung ikut Shuttle Bus dari Prambanan menuju Keraton Ratu Boko.
Keraton Ratu Boko, Candi tercantik sejauh ini menurutku. Setengah tahun lalu padahal baru saja dari sana, tapi sayang waktu itu nggak bawa kamera beneran alias cuma kamera hape hingga tak bisa mengabadikan kecantikannya secara sempurna. Dan kini aku kembali rindu mengunjunginya.
Langit mendung dan hujan rintik. Keraton Ratu Boko tampak makin sayu dalam keheningannya. Ah, sempet kepikir suatu hari nanti (entah kapan) aku bisa foto pre-wed di sini, hahaha! Sumpah, candi ini keren luar biasa! Imajinasi kita bahkan bisa bergerak bebas nan liar membayangkan bangunan-bangunan batu tersebut seperti apa dulunya...






Perjalanan pulang ke Pekalongan via Magelang. Sejenak say hay dengan Candi Mendut yang terlewati untuk menuju Borobudur. Nggak niat masuk ke kompleks Borobudur, suasananya juga udah kayak cendol karena pengunjung yang ramai. Jadilah hanya mampir beli bakso di deket kios souvenir/parkiran untuk mengganjal perut lapar. Sangat kecewa dengan kondisi lingkungan sekitar karena sampah berserakan. Sayang banget :-(
Ah, masih banyak Candi yang berserak yang ingin kusapa dan kunikmati keindahannya. Entah kapan bisa mblusukan, memburu masa lalu...mengais sisa kejayaan Nusantara dulu...!!!
Monday, October 10, 2011
Kembang Pete, Jilid II
Dear kehidupan,
Aku pengen complain. Complain pada pilihan hidupku sendiri. Semakin nyadar kalau pekerjaan ini terlalu "keras" buatku. Mungkin kulitku atau hatiku sudah sekasar badak hingga baru kerasa, atau memang Nilai Ambang Batas nya sudah mampu terlewati sehingga menjadi terbiasa?
Mereview lagi perjalanan. God, sudah sejauh inikah terlampaui...? Dari hutan belantara Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Sumatra Utara...dan pijakan-pijakan kecil di bagian pulau lainnya, hingga kini terdampar di lautan maha luas. Sudah sejauh inikah rentangan pekerjaan yang telah aku jalani selama ini? Aku kuat ternyata, tapi shit...apa yang telah terjadi denganku?
Apalagi yang kucari? Impian macam apalagi? Tantangan seperti yang bagaimana lagi? Kepuasan yang model kayak mana? Ketika hidup tanpa planning yang jelas kupilih, menikmati segala surprise di dalamnya, lalu bingung kan melanjutkan seperti apa. Aku sedang terjebak dalam perasaan yang sulit terdefinisikan. Kata "yach, dinikmati aja" pun tak lagi bisa terucap untuk menenangkan diri...
Hah! Maafkan aku jiwaku. Aku tahu kamu sudah lelah. Tunggu sebentar lagi ya...
Nyaris jam lima sore waktu samudra tak terbatas di Selat Makassar. Aku hanyalah seorang perempuan. Pernah jadi pemimpi, tapi kerap menjadi pecundang. Cita-citaku sederhana. Menggandeng anak-anakku kelak, menunggu papanya pulang. Mengantarkan mereka tidur dengan cerita kehidupan, bahwa dulu...Ibunya pernah pura-pura menjadi wanita tangguh. Membangunkan mereka dengan kecupan sayang. Menyiapkan sarapan dari tanganku sendiri. Memberinya bekal untuk berangkat sekolah...
Ah, sial...airmataku nyaris jatuh...
Weits, dah jam lima lebih...! Belum sholat Ashar!
Aku pengen complain. Complain pada pilihan hidupku sendiri. Semakin nyadar kalau pekerjaan ini terlalu "keras" buatku. Mungkin kulitku atau hatiku sudah sekasar badak hingga baru kerasa, atau memang Nilai Ambang Batas nya sudah mampu terlewati sehingga menjadi terbiasa?
Mereview lagi perjalanan. God, sudah sejauh inikah terlampaui...? Dari hutan belantara Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Sumatra Utara...dan pijakan-pijakan kecil di bagian pulau lainnya, hingga kini terdampar di lautan maha luas. Sudah sejauh inikah rentangan pekerjaan yang telah aku jalani selama ini? Aku kuat ternyata, tapi shit...apa yang telah terjadi denganku?
Apalagi yang kucari? Impian macam apalagi? Tantangan seperti yang bagaimana lagi? Kepuasan yang model kayak mana? Ketika hidup tanpa planning yang jelas kupilih, menikmati segala surprise di dalamnya, lalu bingung kan melanjutkan seperti apa. Aku sedang terjebak dalam perasaan yang sulit terdefinisikan. Kata "yach, dinikmati aja" pun tak lagi bisa terucap untuk menenangkan diri...
Hah! Maafkan aku jiwaku. Aku tahu kamu sudah lelah. Tunggu sebentar lagi ya...
Nyaris jam lima sore waktu samudra tak terbatas di Selat Makassar. Aku hanyalah seorang perempuan. Pernah jadi pemimpi, tapi kerap menjadi pecundang. Cita-citaku sederhana. Menggandeng anak-anakku kelak, menunggu papanya pulang. Mengantarkan mereka tidur dengan cerita kehidupan, bahwa dulu...Ibunya pernah pura-pura menjadi wanita tangguh. Membangunkan mereka dengan kecupan sayang. Menyiapkan sarapan dari tanganku sendiri. Memberinya bekal untuk berangkat sekolah...
Ah, sial...airmataku nyaris jatuh...
Weits, dah jam lima lebih...! Belum sholat Ashar!
Friday, September 30, 2011
Cerita dari Bromo

Maka Gunung Bromo-lah menjadi tujuan perjalananku dan Nia sahabatku kali ini. Tak ikut EO travel apapun dan hanya bermodal searching di internet tentang perjalanan ke sana. Bersyukur betapa informasi yang luar biasa banyaknya berhasil aku dapatkan di dalamnya.
Berangkat pagi-pagi dari Kost Pule Residence tercinta. Sudah niat harus naik ojeng dari depan gang untuk menuju Terminal Kampung Rambutan untuk mengejar Bis Damri jurusan Bandara Soekarno Hatta yang jam 5. Bolak-balik ngintip ke depan gang tetapi tak satupun tukang ojeg yang biasanya mangkal di situ ada. Ah, mungkin karena masih terlalu pagi, bahkan adhan subuhpun belum berkumandang. Dan benar, selesai adhan barulah muncul tukang ojeg di depan gang, itupun Cuma satu padahal kami berdua. Alhasil, kami berdua membonceng dengan hanya 1 ojeg. Jangan bicara safety, karena sama sekali nggak safety. Bahkan aku yang membonceng paling belakangpun duduk dengan posisi yang sangat tidak ergonomis. Tapi masih lebih parah Nia, karena naik ojeg pagi-pagi buta malah membuatnya jet lag dan agak-agak kurang sadar…(ha3x, piss Ni…!)
Bis Damri yang berangkat jam 5 pagipun terlewat sudah. Kami yang berangkat jam setengah enam. Kami nggak mungkin terlambat pesawat jam 06.50, pikir kami, karena Lion sudah sangat terkenal dan berkali-kali kurasakan delay-nya. Tapi ternyata di luar dugaan, ternyata pagi itu Lion terbang sesuai jadwal dan kami mesti lari terbirit-birit dari ke pesawat terbang untuk boarding. Sialnya lagi, aku dan Nia tidak duduk bersebelahan meski kami check in bareng. Maka jadilah kami duduk terpisah sepanjang perjalanan Jakarta ke Surabaya, menikmati dunia dan langit masing-masing selama kurang lebih 1,5 jam.
Sampailah kami Bandara Juanda Surabaya. Hmm, ini kali kedua aku injakkan kakiku di Bandara ini. Sesuai catatan rute, maka kami akan naik Bis Damri jurusan Terminal Bungurasih.
Rasa lapar melanda karena kami belum sarapan. Kami memilih untuk sarapan sebentar di warung soto di kompleks terminal. Busyet dah, seperti inikah soto daging khas Surabaya? Alamak…dagingnya besar-besar dan banyak pula, mana langsung dicampur dengan nasinya. Eh, ada yang salah pesen teh. Ha3x, ini bukan Jakarta yang mesti harus bilang teh manis kalau mau pesen teh dengan gula. Tahukah berapa rupiah kami habiskan untuk 2 mangkuk soto daging dan 2 gelas teh hangat? Rp. 50.000 bos, mahalnya! Ya sudahlah, mau apalagi, nasi sudah kadung masuk lambung, wkwkwk!
Kami melanjutkan perjalanan ke Probolinggo dengan menggunakan bis ekonomi. Perjalanan rasanya begitu ternikmati karena kami sama-sama baru melihat pemandangan sepanjang Surabaya-Probolinggo. Ah, seandainya kami bisa turun sebentar saja di tanggul lumpur Lapindo dan melihat isinya.
Setelah perjalanan sekian jam, tibalah kami di Terminal Bayu Angga Probolinggo. Nanya sana-sini tentang angkutan yang menuju Bromo, ternyata angkutan tepatnya minibus tersebut berada di area luar terminal. Minibus masih kosong, sang supir meminta kami untuk menunggu. Entah sampai berapa lama minibus tersebut dapat full dan segera beranjak menuju Bromo. Dan yeah, berjam-jam kami seperti dua orang aneh yang menunggu sesuatu yang tak pasti. Duduk di depan warung bakso dan tukang buah. Nggak enak Cuma numpang duduk, akhirnya Nia berinisiatif untuk membeli buah jeruk, yang mesti agak asem tapi lumayan membuat rasa nggak enak kami pada penjual buah tebayar. Menunggu, masih menunggu. Ditemani lagu “Cinta Satu Malam” yang mengalun keras dari warung soto/bakso, akhirnya aku keluarkan jurus pemusnah rasa bosa, alias kamera dan tripod. Lalu seperti orang gila, kami sibuk foto-foto nggak jelas.
Ups, ada yang terlewat dalam cerita (sorry, Nia). Datanglah seseorang, raut muka Asia tapi bukan Indonesia, dengan rucksack besarnya menuju minibus. Sepertinya dia juga akan ke Bromo. Cerita selanjutnya dengan orang Jepang yang ternyata bernama Yuki ini, sepertinya sangat membekas di hati Neng Nia (ehm…).
Akhirnya, setelah ada 8 penumpang, minibus yang bertuliskan “Ambisi” di sisi kanan bodinya itu meluncur penuh ke Bromo. Wahai sesuatu yang telah lama terindukan…here I come!!!
Pemandangan sepanjang perjalanan lumayan memukai, sayang kelihatan agak gersang karena musim kemarau atau efek dari erupsi gunung beberapa waktu lalu.
Kami berhenti tepat di depan Café Lava, hotel yang sudah kami pesan kemarin. Turis Jepang gebetannya Neng Nia nggak bisa nginep di situ karena kamar kelas ekonomi sudah penuh dan tinggal kamar kelas superior dengan harga enam ratusan ribu lebih, begitupun 3 penumpang lain yang seperjalanan dengan kami.
Udara dingin mulai berasa. Begitupun lapar yang mendera. Selesai meletakkan barang-barang di kamar kami segera pergi ke warung terdekat. Tak lupa janjian dengan si Aa’ Yuki. Dan obrolan seru Neng Nia dan Aa’ Yuki, membuatku merasa menjadi obat nyamuk saja! Ha3x.
Menikmati sunset tak boleh terlewat. Café Lava jaraknya sangat dekat dengan pintu gerbang wisata Bromo dan dengan mudahnya akses kami menikmati pemandangan gunung-gunung di depan selama senja, dilanjutkan dengan jalan menuju lautan pasir. Indah luar biasa. Meski harus ditebus dengan jalan pulang kembali yang menanjak ketika pulangnya. Efek positifnya adalah kami nyenyak tertidur sehingga nggak merasa ngantuk meski nanti harus bangun jam 2 pagi untuk persiapan melihat sunrise dari penanjakan.
Semua atribut anti dingin telah dikenakan. Jaket, sarung tangan dan penutup kepala. Jam 03.30, hardtop yang akan membawa kami menuju penanjakan telah siap di depan hotel. By the way, Yuki juga ikut serta dalam hardtop tersebut. Ehm…Neng Nia jadi tambah semangat jalannya. Anjrit, senter terlupa masih di dalam tas satunya! Terpaksa kami beli senter di tengah jalan. Perjalanan menuju Penanjakan sangat ramai waktu itu. Nggak sebegitu jauh atau menanjak sebenarnya, tapi…kaki dan nafasku sudah tak sekuat dulu, jamannya berkelana di pedalaman Wedabay dan Martabe. Ah…!
Sunrise nyaris di depan mata ketika sampai di Penanjakan. Cari spot yang terbaik untuk membidikkan kamera. Bersaing dengan ratusan orang yang sudah menjejal area tersebut dengan kamera masing-masing. Jadilah pagi itu…aku menikmati matahari Bromo serta mengabadikannya dalam kamera, pun dalam hati (halah!). Ada sedikit yang mengganggu, bahwa hijaunya Bromo yang sering kulihat dalam foto-foto tak tampak lagi. Bukit Teletubbies, yup savanna itu kelihatan gersang, hiks…sayang. Tapi bagaimanapun pemandangan di depan mata ini tetap masuk di dalam kategori luar biasa. Weits…terdengar suara anak kecil merengek. Kutengok dan…anjrit, ada bayi kecil bule lagi digendong ama Papanya. Busyet, anak sekecil itu telah melahap indahnya Bromo dalam umurnya yang masih hijau, sementara aku…halah…sudah tua begini baru ternganga dan berhasil ke Bromo padahal ini terletak di Indonesiaku tercinta…
Puas berfoto-foto, kamipun turun kembali ke tempat hardtop yang telah menunggu. Sempat terjadi incident kecil ketika kami tak menemukan hardtop yang tadinya mengantar kami ke Penanjakan. Setelah bertanya kepada driver hardtop lain, ternyata hardtop yang pagi tadi membawa kami tersebut salah orang dan bukan kami yang seharusnya dijemput. Tapi syukurlah ada hardtop lain yang telah disiapkan. Tadinya kami berangkat Cuma bertiga, kini kami turun berenam. Trip selanjutnya adalah Kawah Bromo…
Aku dan Nia menjadi dua WNI yang ada dalam hardtop tersebut. Jadilah acara ngobrol dengan Pak Sopir dapat kami lakukan dengan gampangnya. Sementara 3 bule dan 1 Jepang mungkin hanya bisa garuk-garuk kepala mendengarkan ocehan kami.
Untuk menuju Kawah Bromo dapat dilakukan dengan jalan kaki atau naik kuda sampai di bawah tangga. Pak Supir menyatakan bahwa naik kuda hanya Rp. 60.000,- pulang pergi, yang punya kuda bakal nunggu si penumpang turun dari kawah Bromo. Well, Rp. 60.000 PP tak begitu mahal dibanding membayangkan energy yang harus dikeluarkan untuk menapaki lautan pasir menuju Kawah bromo. Jadilah kami deal, meski akhirnya kami kecewa karena info dari Driver Hardtop tadi ternyata salah banget! Rp. 60.000 hanyalah naik atau turun saja, kalau pulang pergi ya jadinya Rp. 120.000. Tahu gini kan naikknya aja yang pake kuda, turunnya jalan kaki tinggal meluncur. Sial…setelah soto daging di Surabaya kini kami kena pula di masalah kuda! Halah-halah…!
Tangga yang konon katanya berjumlah 250 menuju kawah Bromo itu kunaiki, minus Neng Nia yang nggak mau naik. Banyak tangga yang rusak (kurasa karena pengaruh erupsi), dan debu begitu penuh memenuhi lantainya, mana berjejal pula. Sesampai di Kawah Bromo…o…lubang besar dalam mengangga di depan mata. Mengingatkanku pada area open pit di tambang Batu Hijau. Bedanya, lubang terbuka di tambang dipenuhi lalu lalang haul truck dan aktivitas manusia, kalau lubang yang ini…gelap dan serasa tak berbatas, entah apa yang ada di dalamnya. Dalam perjalanan pulang turun tangga, eh…si bayi kecil tadi muncul lagi. Tampak tertidur pulas dalam gendongan Mamanya. So sweet….
Jam 8 pagi kesepakatan kami dengan Driver Hardtop untuk kembali.
Sampai di Café Lava, sarapan dulu. Giliran nasi pecel yang jadi santapan aku dan Nia. Si Yuki mencicipi gado-gado plus nasi tambahan. Telepon hotel yang kurencanakan untuk menginap di destinasi kami selanjutnya yaitu Malang. Tetapi malangnya pula, hotel tersebut telah full book untuk hari ini. Kenapa aku jadi lalai begini, seharusnya aku menyiapkan alternative-alternatif hotel cadangan. Nia kemudian telp temannya, dan ujung-ujungnya…planning awal kami akhirnya berubah. Kami tidak menginap di Malang, tapi di Blitar di salah satu temannya Nia.
Dengan Driver minibus yang sama seperti kemarin waktu ke Bromo, kami kembali ke Probolinggo. Ternyata aku dan Nia, menjadi dua WNI lagi di antara 13 penumpang dalam minibus. Dan tidak disangka ataupun diduga, si bayi kecil yang jadi perhatianku selama di Bromo juga satu minibus dengan kami. Si kecil, mama dan papanya, dan beberapa bule lainnya. Lengkap sudah. Sayang aku dan Nia duduk di depan, coba di dekat si bayi kecil itu…ih pasti sudah kucubit-cubit dia, kalau perlu minta ijin buat nggendong “Sir, could you please let me hold your son? He’s so cute!” Hahaha…!
Minibus yang kami tumpangi menyusuri jalan yang sama seperti berangkat kemarin. Tapi kali ini tak langsung ke Terminal Probolinggo melainkan berhenti di sebuah travel agent dulu. Ternyata bule-bule di belakang mau lanjut ke Kawah Ijen. Dan satu persatu bule itupun turun…dan…eng ing eng…tampaklah satu sosok yang anjrit…aje gile di depan kaca minibus tepat di depan mata kami. Itu pamannya si kecil! Gubraxxx, tenang-tenang! Jangan kelihatan norak, wkwkkw.
Sampai di Terminal Probolinggo. Aku, Nia dan si Yuki pun turun. Langsung cabut ke Malang. Malang akan jadi tempat transitan sebelum aku dan Nia ke Blitar, sementara si Yuki memang berniat bermalam di sana. Jadilah kami berpisah di Terminal Malang. Setelah sebelumnya mengantar si Yuki ke angkot warna biru jurusan AG yang akan mengantarnya ke Hotel Pajajaran Malang. Nia, jangan sedih ya…hehe!
Lanjut ke Blitar…dan perjalanan kami di Jatim akan berakhir di Surabaya. Ceritanya dilanjut nanti ya...
Subscribe to:
Posts (Atom)